Mentari Pagi

Waktu terus berjalan, seperti malam yang berganti siang. Matahari yang selalu datang setiap pagi, Menunjukkan masa depan dengan harapan baru yang indah.

Aku memulai aktivitas dengan membuatkan secangkir kopi hangat ditemani fajar pagi yang cerah. Kopi dan kretek tak terpisahkan, mungkin keajaiban semesta yang dikaruniakan pada jutaan manusia. Selinting kretek mulai dibakar dengan percikan api kecil yang membara. Kopi dan kretek bagaikan bulan dan bintang yang sejoli dimabuk asmara.

Mentari pagi mulai pulang dengan membawa awan hitam yang penuh kesedihan. Apakah bumi mulai kehausan setelah membakarnya musim kemarau bulan lalu? Dibalik jendela aku menikmati tetesan air mata langit yang jatuh ke bumi. Setiap tetesan itu mengandung cuplikan adengan. Pikiran dan imajinasi yang indah, mengingatkan ku pada kisah lampau.

Kenapa hujan dipagi ini mengingatkan ku kepada dia? Apakah dia baik - baik saja?
Lebih baru Terlama

Related Posts

Posting Komentar

Ikuti Saya Melalui Email